
Saat terpikirkan Jokowi yang jujur dan bebas korupsi; sesaat itu pula ruang ingatan saya kembali membuka lembaran kesejatian Hatta dan Hoegeng bahwa menjadi pejabat adalah berarti tanggung jawab sebagai pelayan dan pengabdian, hal itu harus disertai dengan bahan bakar utama yaitu semangat dan kejujuran, tidak menggunakan jabatan untuk mengambil yang bukan hak, suatu yang langka di era saat ini.
Saat terpikirkan Jokowi ketika memimpin Solo kota yang penduduknya plural sebagai kota yang damai bermartabat; saya teringat lembali tentang Soekarno yang dapat memimpin Republik yang sangat beragam dan plural beragam suku bangsa, bahwa Indonesia adalah ruang bersama dan pancasila adalah dasarnya.
Saat terpikirkan Jokowi yang merombak tata kelola birokrasi agar lebih progresif, menggagas kartu sehat untuk masyarakat dan bahwa masyarakat yang sakit tidak boleh meninggal hanya karena urusan birokrasi yang berbelit-belit; saya kembali diingatkan dengan kisah J.Leimena saat menggagas mendirikan puskesmas agar ilmu kedokteran haruslah berguna bisa menjangkau kesemua khalayak dan lapisan serta pelosok, bahwa untuk menjadi bangsa yang besar masyarakat juga harus memiliki fisik yang sehat dan ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi menara gading tetapi sebaliknya harus digunakan untuk kemajuan bersama, manusia yang satu adalah saudara bagi sesamanya.
Saat terpikirkan dan teringat perawakan Jokowi dengan badannya yang cukup kurus dan tinggi; ruang ingatan saya kembali terisi oleh kisah Tirto Adhi Soerjo sebagai inisiator pers pertama di Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) dia begitu mencintai bangsanya dengan badannya yang kurus karena siang pun malam selalu memikirkan dan menulis sebagai suluh pencerahan serta berinteraksi dengan masyarakatnya langsung disela kesibukan formalnya.
Saat terpikirkan Jokowi yang memilih mobil biasa sebagai mobil dinasnya serta tidak mengambil gajinya bertahun-tahun dan melakukannya itu dalam keheningan; saat itu pula saya kembali membuka lembar kekaguman saya pada Tan Malaka seorang bapak Pendiri Republik dengan perawakan yang begitu sederhana dan brilian dalam keheningan dia bergerilya untuk pencerdasan sebangsanya serta tidak menginginkan publisitas semu.
Saat terpikirkan Jokowi yang bersahaja dan kepribadian yang membumi serta tidak dibuat-buat hingga para pedagang kecil dapat dirangkul dan menaruh kepercayaan padanya; saya kembali diingatkan akan Mangunwijaya dalam pergulatannya bersama masyarakat saat hendak penggusuran di Kali Code lalu membangkitkan gelora optimisme dan kebersamaan dengan masyarakat untuk mencipta keindahan tata ruang.
Dalam kerendahan hati serta ketulusan Jokowi tercermin prasyarat ketampanan sejati bahwa menjadi tampan tanpa harus menjelekkan yang lain dan hal itu juga diterapkannya dalam arena kompetisi, dia tidak mengunakan teror psikologi slogan-slogan semu satu putaran untuk menghemat biaya, dia tidak menggadaikan agama pun memanipulasi ayat-ayat suci, dll sebaliknya Jokowi bekerja lewat tindakan dan contoh.
Pemikir yang bertindak, dan eksekutor sekaligus pemikir. Jokowi memberikan secercah harapan dalam ruang dan waktu, dia adalah oase di tengah padang gurun, dia memberikan terang dan mengembalikan optimisme di tengah panggung minimnya kepercayaan masyarakat, dalam dirinya tercermin nilai keksatriaan dan negarawan sejati bahwa pemimpin adalah sumber solusi dan bukan sumber masalah ataupun keluh kesah.
Patah tumbuh hilang berganti…. dalam balutan kesejatian dan kemanusiaan.
Having power is to serve, having authority is for higher responsibility.
Semoga! Semoga tetap konsisten! Semoga! Semoga diberikan yang terbaik!
-Manganju Luhut T, Jonggol Jawa Barat, minggu kedua Juli 2012.