Kerap terkesima dan tak’kan bosan membacanya serta menjadi bahan bakar sejak kaki menjejak sekolah adalah romantisme Bumi Manusia; masih takjub akan “kitab suci” mengaktifkan akal sehat bernama Madilog dari si Datuk Tan Malaka; tersenyum sediri dan terdiam kala reflektif mendengar Burung Berkicau dari si Anthony de Mello; perasaan campur-aduk mengenangkan pergolakan Don Quixote, terdiam sesaat mengingat cerita pergulatan batin dua insan pada Burung-Burung Manyar dari Romo Mangunwijaya, tersipu malu dengan pesan Sang Nabi-nya Kahlil Gibran.Kini setelah bertahun-tahun mencarinya, salah satu risalah terindah yang membuat bola mata berkaca-kaca bernama Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, kisah nyata kumpulan catatan harian yang dapat diselamatkan si bung Pram. Saya telah merampungkannya dalam situasi yang jauh dari informasi!Terima kasih yang empunya semesta alam,  hingga saya tidak pernah mengultuskan siapa pun. Terima kasih buat segala sesuatunya pada siapapun, hingga saya dapat mengenal pun mengetahui mereka, sekalipun perkenalan imajiner lewat karya mereka. :)

Kerap terkesima dan tak’kan bosan membacanya serta menjadi bahan bakar sejak kaki menjejak sekolah adalah romantisme Bumi Manusia; masih takjub akan “kitab suci” mengaktifkan akal sehat bernama Madilog dari si Datuk Tan Malaka; tersenyum sediri dan terdiam kala reflektif mendengar Burung Berkicau dari si Anthony de Mello; perasaan campur-aduk mengenangkan pergolakan Don Quixote, terdiam sesaat mengingat cerita pergulatan batin dua insan pada Burung-Burung Manyar dari Romo Mangunwijaya, tersipu malu dengan pesan Sang Nabi-nya Kahlil Gibran.

Kini setelah bertahun-tahun mencarinya, salah satu risalah terindah yang membuat bola mata berkaca-kaca bernama Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, kisah nyata kumpulan catatan harian yang dapat diselamatkan si bung Pram. Saya telah merampungkannya dalam situasi yang jauh dari informasi!

Terima kasih yang empunya semesta alam,  hingga saya tidak pernah mengultuskan siapa pun. Terima kasih buat segala sesuatunya pada siapapun, hingga saya dapat mengenal pun mengetahui mereka, sekalipun perkenalan imajiner lewat karya mereka. :)

Saat Saya Teringat Jokowi

 

Saat terpikirkan Jokowi yang jujur dan bebas korupsi; sesaat itu pula ruang ingatan saya kembali membuka lembaran kesejatian Hatta dan Hoegeng bahwa menjadi pejabat adalah berarti tanggung jawab sebagai pelayan dan pengabdian, hal itu harus disertai dengan bahan bakar utama yaitu semangat dan kejujuran, tidak menggunakan jabatan untuk mengambil yang bukan hak, suatu yang langka di era saat ini.


Saat terpikirkan Jokowi ketika memimpin Solo kota yang penduduknya plural sebagai kota yang damai bermartabat; saya teringat lembali tentang Soekarno yang dapat memimpin Republik yang sangat beragam dan plural beragam suku bangsa, bahwa Indonesia adalah ruang bersama dan pancasila adalah dasarnya.

Saat terpikirkan Jokowi yang merombak tata kelola birokrasi agar lebih progresif, menggagas kartu sehat untuk masyarakat dan bahwa masyarakat yang sakit tidak boleh meninggal hanya karena urusan birokrasi yang berbelit-belit; saya kembali diingatkan dengan kisah J.Leimena saat menggagas mendirikan puskesmas agar ilmu kedokteran haruslah berguna bisa menjangkau kesemua khalayak dan lapisan serta pelosok, bahwa untuk menjadi bangsa yang besar masyarakat juga harus memiliki fisik yang sehat dan ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi menara gading tetapi sebaliknya harus digunakan untuk kemajuan bersama, manusia yang satu adalah saudara bagi sesamanya.


Saat terpikirkan dan teringat perawakan Jokowi dengan badannya yang cukup kurus dan tinggi; ruang ingatan saya kembali terisi oleh kisah Tirto Adhi Soerjo sebagai inisiator pers pertama di Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) dia begitu mencintai bangsanya dengan badannya yang kurus karena siang pun malam selalu memikirkan dan menulis sebagai suluh pencerahan serta berinteraksi dengan masyarakatnya langsung disela kesibukan formalnya.


Saat terpikirkan Jokowi yang memilih mobil biasa sebagai mobil dinasnya serta tidak mengambil gajinya bertahun-tahun dan melakukannya itu dalam keheningan; saat itu pula saya kembali membuka lembar kekaguman saya pada Tan Malaka seorang bapak Pendiri Republik dengan perawakan yang begitu sederhana dan brilian dalam keheningan dia bergerilya untuk pencerdasan sebangsanya serta tidak menginginkan publisitas semu.


Saat terpikirkan Jokowi yang bersahaja dan kepribadian yang membumi serta tidak dibuat-buat hingga para pedagang kecil dapat dirangkul dan menaruh kepercayaan padanya; saya kembali diingatkan akan Mangunwijaya dalam pergulatannya bersama masyarakat saat hendak penggusuran di Kali Code lalu membangkitkan gelora optimisme dan kebersamaan dengan masyarakat untuk mencipta keindahan tata ruang.


Dalam kerendahan hati serta ketulusan Jokowi tercermin prasyarat ketampanan sejati bahwa menjadi tampan tanpa harus menjelekkan yang lain dan hal itu juga diterapkannya dalam arena kompetisi, dia tidak mengunakan teror psikologi slogan-slogan semu satu putaran untuk menghemat biaya, dia tidak menggadaikan agama pun memanipulasi ayat-ayat suci, dll sebaliknya Jokowi bekerja lewat tindakan dan contoh.


Pemikir yang bertindak, dan eksekutor sekaligus pemikir. Jokowi memberikan secercah harapan dalam ruang dan waktu, dia adalah oase di tengah padang gurun, dia memberikan terang dan mengembalikan optimisme di tengah panggung minimnya kepercayaan masyarakat, dalam dirinya tercermin nilai keksatriaan dan negarawan sejati bahwa pemimpin adalah sumber solusi dan bukan sumber masalah ataupun keluh kesah.


Patah tumbuh hilang berganti…. dalam balutan kesejatian dan kemanusiaan.

Having power is to serve, having authority is for higher responsibility.

Semoga! Semoga tetap konsisten! Semoga! Semoga diberikan yang terbaik!


-Manganju Luhut T, Jonggol Jawa Barat, minggu kedua Juli 2012.

Tentang paradoks realitas

Sekitar dua jam yang lalu saya membaca berita tentang niatan para elit pemerintah yang hendak mengimpor singkong, saya kira saya sedang bermimpi atau berhalusinasi namun ternyata benar, hal ini juga pernah beberapa tahun silam dicetuskan walau memang dalam hal yang berbeda yaitu mengimpor garam dimana indonesia yang beribu mil panjang garis pantainya, beragam cara dilakukan dan terkesan sok ilmiah dengan berbagai macam berusaha merasionalisasi dan pembenarannya, yang tentu saja masyarakat awam tak tahu hal ini dimana para elit “hipokrit” ini telah berbagi “jatah” dengan dengan pengusaha dan konglomerat hitam.

Memang akhir-akhir ini saya merasa “kesepian” dan penuh pertimbangan, saya harus menunda niatan saya untuk melanjutkan studi karena beberapa aspek tanggung jawab saya dan harapan masa depan hingga harus berubah rancangan.

Setiap kali membaca surat kabar saya semakin sadar saya tinggal di negara ekstrim, elit yang berlomba-lomba mengambil sebanyaknya untuk dirinya sendiri. Tak luput juga para rohaniwan, yang kerap menjual ayat-ayat suci dan memanipulasi cap “Tuhan”.

Saya pun langsung teringat lagi ceramah Soekarno yang telah saya baca jauh hari, saya suka membaca pemikirannya, saya kerap mengulang membacanya kala pesimisme datang menghampiri.




        “…Jadi kewajibanmu sebagai pemuda ialah, nomer satu: membuat dirimu menjadi orang yang skillful sepenuh-penuhnya di lapanganmu masing-masing. Engkau ingin jadi dokter ? Baik, skill dokter harus engkau ambil sepenuh-penuhnya. Jangan dokter tempe. Dokter yang betul-betul dokter. Engkau ingin menjadi insinyur ? Ya, skillful yang se-skillful-skillful-nya. Jangan insinyur yang Cuma bikin gubuk dan jembatan kecil. Saya pernah di hadapan pemuda dan pemudi berkata: O, kalau umpamanya saya bisa menjadi insinyur thok, dan tidak seperti sekarang ini, disuruh gembar-gembor di hadapan rakyat, O, saya ini ingin membuat jalan kereta api, kataku, dari Kutaraja, terus ke selatan, sampai ke Panjang di Lampung, di bawah lautan Selat Sunda, tunnel, sampai ke Anyer di Banten. Kereta api terus sampai ke Banyuwangi, selulup di bawah Selat Bali, sampai di Gilimanuk, terus melintasi Pulau Bali, terus selulup di bawah Selat Sumbawa, terus melintas Lombok, Sumbawa dan seterusnya, terus sampai Kupang. Naik kereta api dari Kutaraja, dua hari kemudian sudah sampai di Kupang, bertemu dengan anak-anak kita di Kupang. Lha, ini, ini insinyur yang bercita-citakan setinggi bintang di langit.

Human skill, tetapi di samping human skill kita harus mengadakan material investment, yaitu mempersiapkan segala materi, alat-alat untuk pembangunan. Saya selalu membikin contoh semen. Mana bisa membuat gedung ini kalau tidak ada semen. Mana bisa membuat pabrik kalau tidak ada semen. Mana bisa bikin jembatan kalau tidak ada semen; mana bisa membuat landasan kapal udara kalau tidak ada semen. Mana bisa membuat pelabuhan jikalau tidak ada semen. Maka oleh karena itu, material investment adalah perlu sekali. Maka oleh karena itu kita tempo hari membuka pabrik semen. Tetapi sekarang pun belum cukup, pabrik Gresik cuma memenuhi kebutuhan 35%. Dulu sebelum pabrik semen Gresik ada, kita mempunyai pabrik semen di Indarung, Sumatera Barat, memenuhi 25% dari kebutuhan kita. Ya, kita punya pabrik semen Cuma dua ini lho; satu di Padang, Indarung, satu di Gresik. Satu menghasilkan 25%, satu 35%; Cuma 60%, kurang 40%, dan 40% ini kita harus impor dari luar negeri. Kita harus mengadakan material investment yang berupa semen, sedapat mungkin, kalau uang kita sudah ada, kita harus membangunkan pabrik semen, pabrik semen, pabrik semen, pabrik semen.

Masa, negeri Bulgaria, negeri kecil, saya kan baru darang dari Bulgaria, negeri kecil, penduduknya cuma 6 juta di Bulgaria, mereka itu mempunyai overproductie semen, membuat semen lebih banyak daripada kebutuhannya, sehingga pada waktu saya datang di sana, pemerintah Bulgaria, presidennya dan perdana menterinya menawarkan kepada saya: “…. Presiden Soekarno, kami bisa memberi semen kepada Indonesia, Indonesia mbok kasih kopi sama gula kepada kita….” Rakyat yang cuma 6 juta, yang dulunya rakyat Bulgaria rakyat yang paling miskin di seluruh Eropa ! Saya ingat pada waktu saya masih Kaakrasana, saya bikin pidato di Bandung. Saya ceritakan hal penderitaan rakyat di Indonesia, ya, pada waktu itu saya berkata, kalau di Eropa, penderitaan rakyat di Indonesia itu hampir-hampir sama dengan penderitaan rakyat Bulgaria. Saya bilang rakyat Bulgaria pada waktu itu memegang record kemiskinan. Record ! Lho, sekarang over produksi semen, Saudara-saudara, karena mereka punya usaha untuk mengadakan material investment itu hebat sekali.

Demikian pula negara-negara lain. Saya ini sudah pernah njajah desa milang kori, ke luar negeri, hanya ada beberapa negara yang belum saya kunjungi dan insya Allah Subhana Wata’ala, saya minta persetujuan Pak Dr. Leimena, tahun muka saya mau insya Allah datang juga di negara-negara itu. Dia itu pegang uang antara lain Saudara-saudara. Sebagai wakil menteri pertama, tanggung jawab atas uang pul. Lha kalau diizinkan oleh Pak Dr. Leimena, nanti tahun muka saya ingin melawat ke negara-negara lain itu….”

- Ceramah Soekarno kepada para pelajar dan pemuda di Surakarta, 11 Juli 1960.